Kisah Sukses Kebun Sawit Marihat

Daun Pelepah Sawit
Abnormalitas Pada Tanaman Sawit
Crude Palm Oil
Pengolahan Kelapa Sawit
Show all

Kisah Sukses Kebun Sawit Marihat

Tanaman Sawit

Kelapa sawit adalah bahan utama pembuatan CPO atau Crude Palm Oil, dimana ini juga menjadi bahan dari setidaknya 47 produk turunan minyak sawit. Demikian berarti CPO dibutuhkan oleh banyak jenis industri. Mulai dari farmasi, kosmetik dan industri produk kecantikan, pangan, kimia penganti produk turunan minyak bumi, hingga riset mendatang yang memungkinkan sawit menjadi penganti produk minyak bumi. Tak ayal, banyak orang yang tergiur menjadi petani sawit.

Lahan sawit di Indonesia tersebar di wilayah pulah Sumatra dan Kalimantan. Beberapa diantaranya dikelola oleh perusahaan besar, yang tentu melibatkan konsorsium raksasa. Sementara tak sedikit juga yang dikerjakan oleh petani mikro atau plasma dibawah naungan koperasi atau PTPN yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah.

Salah satu yang paling besar ada di Sumatra Utara, dibawah naungan PTPN IV Marihat. Besarnya skala tanam serta perhatian pemerintah terhadap perkembangan PTPN IV menjadikan PTPN IV Marihat berkembang menjadi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat sehingga mampu memproduksi bibit kelapa sawit unggulan yang siap tanam. Tak hanya memproduksi bibit kelapa sawit unggulan yang diberi nama Marihat Klon (MK) PPKS Marihat juga menyiapkan petani dibawah naungannya untuk dapat memproduksi Tandan Buah Segar Sawit yang siap diproses menjadi CPO berkualitas.

Perjalanan PPKS Marihat juga membawa kisah sukses bagi banyak petani sawit. Beberapa terangkum dalam artikel kali ini, simak kisahnya untuk inspirasi pengembangan usaha. Berikut adalah cuplikannya.

Bibit Sawit dan Kemakmuran, Bukan Dongeng Pengantar Tidur

Kelapa sawit adalah tanaman yang penting sebagai penghasil minyak mulai dari minyak masak hingga bahan bakar yang disebut dengan istilah bio diesel. Tanaman ini tergolong dalam bangsa palem-paleman, didatangkan oleh pemerintah kolonial hindia Belanda pada seputaran 1848. Sejak saat itu, sawit ditanam dan banyak dibudidaya dikawasan Sumatera (70%) dan Kalimantan (30%). Semua dalam bentuk perkebunan yang pada saat masa kolonialisme dikelola oleh pihak pemerintah kolonial. Saat era kemerdekaan banyak kebun sawit diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia, untuk selanjutnya pengelolaan dikelola dibawah PT Perkebunan Nusantara yang terbagi dalam berbagai wilayah unit kerja.

PTPN IV yang menaungi PPKS Marihat misalnya. Kini telah mengembangkan salah satu varietas sawit marihat yang mampu menghasilkan potensi produksi berkisar antara 12 tandan per tahun dengan berat masing-masing tandan berkisar antara 17 kilogram. Jika dikalkulasikan maka setiap hektar yang ditanami dengan bibit marihat kira-kira bisa menghasilkan potensi CPO sebesar 6,7 ton per tahunnya. Ini tentu adalah potensi bisnis yang sungguh sangat mengiurkan.

Disamping sawit marihat, perkebunan di Sumatera dan Kalimantan juga banyak mengincar bibit sawit topaz. Ini adalah salah satu bibit yang juga banyak diincar oleh petani sawit, salah satunya seperti Heru Azliyen, petani sawit asal kampar Riau, ini karena bibit sawit topaz juga termasuk salah satu bibit unggul hanya saja harganya relatif tinggi berkisar antara Rp 50.000 per batang dengan usia bibit 12 bulan, sementara untuk yang berusia 3 bulan harga per batangnya berkisar 15.000 rupiah perbatang atau 5000 untuk kecambah yang baru siap semai. Mahalnya bibit sawit topaz inilah yang menjadikan Bunyamin Yakup asal Duri, Riau lebih memilih bibit sawit Marihat.

Pasalnya, menurut Bunyamin Yakup, sawit marihat punya potensi yang lebih baik. Harga perkecambahnya adalah berkisar antara 3000 rupiah. Sementara untuk benih sawit marihat berusia 1 tahun harga perbatangnya hanya pada kisaran Rp 16.000. Dengan potensi menghasilkan jumlah tandan buah segar serta CPO sebagaimana dijelaskan diawal tentu ini tak pelak menjadikan sawit marihat sebagai pilihan yang pas, terutama bagi para petani plasma yang memiliki keterbatasan modal.

Sebagai bahan baku CPO yang jelas sangat dibutuhkan dalam banyak Industri, bertani sawit tentu telah terbukti membawa kesuksesan bagi banyak orang. Tak hanya sebagai petani yang menanam pohon kelapa sawit. Orang-orang seperti Bunyamin Yakup yang mengantungkan hidup dari persemaian bibit sawit juga tentu mendapatkan omzet yang tak sedikit. Semua tentu saja harus dimulai dengan kerja keras serta kemauan usaha yang tinggi.

Sumber KOMPAS