Abnormalitas Pada Tanaman Sawit

Tanaman Sawit
Kisah Sukses Kebun Sawit Marihat
Show all

Abnormalitas Pada Tanaman Sawit

Daun Pelepah Sawit

Pembibitan merupakan kunci sukses dalam perkebunan kelapa sawit. Pembibitan juga merupakan ajang pencarian bibit-bibit unggul serta menyingkirkan segala bentuk abnormalitas. Bibit abnormal merupakan bibit yang menyeleweng dari aspek morfologis dibandingkan dengan bibit normal. Pada setiap pembibitan kelapa sawit pastinya para petani akan menemukan bibit sawit yang abnormal baik karena problem genetik, nutrisi, hama maupun penyakit. Munculnya abnormalitas sangat beragam, selain itu biasayan teridentifikasi setelah tanaman berbuah. Dua faktor yang menyebabkan timbulnya pohon abnormal yaitu faktor genetis dan faktor lingkungan.

Abnormalitas karena faktor genetis cenderung bersifat menetap serta merupakan proses turunan dan akan diturunkan pada generasi selanjutnya, hal ini tentu sulit untuk diperbaiki. Berbeda dengan abnormalitas yang disebabkan karena faktor lingkungan ini, abnormalitas ini lebih bersifat sementara dan mudah diperbaiki. Faktor-faktor tersebut umumnya saling berinteraksi pada suatu bibit kelapa sawit. Interaksi tersebut menyebabkan terjadinya abnormalitas pada bibit. Di bawah ini dijelaskan jenis abnormalitas pada saat pembibitan awal, antara lain:

1. Daun seperti rumput atau grass leaf

Pada awal pembibitan bibit kelapa sawit biasanya daun dengan bentuk seperti lalang atau rumput. Bentuk ukuran daun sempit dan panjangnya normal. Memang ciri-ciri ini tidak begitu sering ditemui. Abnormalitas seperti ini terjadi karena faktro genetis. Care terbaik dengan memusnahkan bibit karena belum ada teknik untuk mengendalikannya hingga saat ini.

2. Daun bergulung atau rolled leaf

Pada bibit kelapa sawit daun menggulung atau melingkar akan tumbuh tidak semestinya ke atas dan ke samping sehingga bisa dibedakan dengan mudah. Faktor genetis adalah penyebab daun menggulung, selain itu serangan hama kutu atau keracunan herbisida juga bisa menjadi pemicu daun menggulung. Hal ini dapat dicegah dengan melakukan pemotongan daun pertama yang menggulung, jika tidak berhasil maka bibit bisa langsung dimusnahkan.

3. Daun berputar atau twisted leaf

Daun berputar biasanya ditemukan pada pembibitan awal, bibit memiliki daun yang tumbuhnya berputar lalu jumlah daunnya lebih kecil dibandingkan bibit yang seumuran. Bonggol biasanya tidak akan terlihat pada tanah. Abnormalitas seperti ini dikarenakan oleh kesalahan kultur teknis, yang mana penanaman kecambah dengan posisi plumula atau kecambah sangat pendek hingga tak bisa membedakan antara plumula dengan radikula. Cara mengendalikannya dengan menghindari penanaman kecambah yang memiliki panjang kurang dari 0,5 cm.

4. Daun tidak membuka atau collante

Pada bibit ini, daun tidak membuka seolah-olah tumbuh seperti daun bawang serta berwarna hijau gelap. Kemungkinan besar daun tak bisa kembali normal. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pestisida yang mengenai titik tumbuh saat di perkecambahan atau pembibitan, bisa juga dikarenakan oleh serangan hama.

5. Daun berkerut atau crinkled leaf

Pada permukaan helai daun, terdapat kerutan dan rapuh jika diremas. Pertumbuhan bibit menjadi tertekan, tanaman menjadi lebih pendek dan bonggol akan terlihat lebih kecil daripada bibit normal namun jumlah daun tetap normal. Daun yang bekerut bisa disebabkan karena defisiensi boron. Cara pengendaliannya dilakukan dengan memberikan unsur hara boron dengan dosis 1 g borax/liter air per 100 bibit. Mengaplikasikannya dengan cara menyemprotnya. Durasi aplikasi sekitar 1 minggu sekali hingga bibit terlihat normal.

6. Daun dengan strip kuning atau chimera

Pada bibit ini terdapat daun yang memiliki garis putih kekuningan seperti pita yang umumnya disebut sebagai daun bule. Hal tersebut menunjukkan bahwa klorofil tidak terdapat pada jaringan itu. Abnormalitas seperti ini disebabkan oleh faktor genetis yang ada kaitannya dengan ketidakseimbangan hara, namun bukan berari defisiensi atau keracunan. Pada umumnya ratio K;N lebih besar yaitu lebih dari 1% namun kurang dari 2,5%. Cara mengendalikannya bisa dilakukan dengan meneliti sumber persilangan serta menambah pupuk K sebanyak 5 g MOP/bibip setiap satu bulan sekali atau dengan menunda pemupukan N.

Pada abnormalitas hal yang paling ekstrim jika tidak terbentuknya buah karena tandan buah sudah dipenuhi oleh bunga jantan atau buah bermantel berat yang menjadi alasan hilangnya produksi. Kualitas kontrol yang kurang efektif pada produksi serta kurangnya pemahaman mengenai penyebab abnormalitas menghambat tertundanya produksi bibit unggul kelapa sawit.