Seleksi Bibit Kelapa Sawit

Kelapa Sawit Jambi
Pemeliharaan Kebun Kelapa Sawit
October 31, 2016
Sawit Indonesia
Peluang Pengembangan Bisnis Sawit
November 1, 2016
Show all

Seleksi Bibit Kelapa Sawit

Seleksi Bibit

Bibit kelapa sawit memiliki keunggulan yang berbeda-beda sejak disemaikan di pembibitan awal. Menurut Darmosarkoro 25% benih yang disemaikan akan di afkir jika tumbuh dengan abnormal. Hal tersebut lantaran pohon tidak dapat berproduksi, hanya 25-50% jika berproduksi dari tanaman normal. Lubis berpendapat apabila pada tanaman dijumpai abnormal 5% maka terjadi kerugian mencapi lebih dari 4,42%. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Marihat (1958) dan Bah Jambi (1968) menunjukan bahwa tanaman berproduksi abnormal hanya 61%, tanaman normal ada yang sama sekali tidak berproduksi sekitar 65%. Lubis menyarankan agar sebelum ditanam perlu dilakukan pemusnahan terhadap bibit yang dicurigai abnormal, lalu perlunya pengawasan saat seleksi akhir dan meminimalisir kerusakan saat pembongkaran, ketika diangkut dan ditanam. Tindakan untuk membongkar sejak awal terhadap pohon yang dicurigai abnormal juga sangat diperlukan.

Menurut ahli dari perkebunan sawit Marihat, ada dua hal yang menjadi faktor timbulnya abnormal pada pohon, yaitu faktor genetis dan lingkungan. Faktor genetis biasanya bersifat menetap atau turunan. Sedangkan faktor lingkungan sifatnya sementara. Abnormalitas yang terjadi pada tanaman kelapa sawit biasanya terjadi di bagian vegetatif dan generatif. Hal ini bisa disebabkan oleh keadaan lingkungan, sifat genetis atau keduanya. Pada umumnya keadaan lingkungan bisa diperbaiki melalui tindakan kultur teknis, misalnya pemupukan. Namun, jika faktor yang disebabkan oleh sifat genetis umumnya susah untuk diperbaiki. Faktor genetis terjadi bisa karena beberapa hal, misalnya proses inbreeding.

Tanaman yang terlihat kaku, merunduk, rachis pendek atau panjang serta terputar menunjukkan gejala abnormalitas. Gejala tersebut biasanya ditemui saat tahap pembibitan yakni ciri-cirinya bergaris putih, memiliki anakan, steril serta bercak orange. Sedangkan untuk abnormalitas karena lingkungan biasanya terjadi akibat faktor manusia dan lingkungan itu sendiri. Faktor manusia biasanya terjadi karena kebakaran pada tanaman dan pelukaan pada akar batang tanaman. Bisa juga karena kekeliruan kultur teknis seperti kesalahan pemupukan, kesalahan penanaman, drainase buruk dan lain sebagainya. Sedangkan faktor lingkungan cenderung kepada masalah yang terjadi di alam itu sendiri seperti banjir, angin keras, serta gangguan hama atau penyakit.

Seleksi bibit merupakan kegiatan untuk memilih bibit yang baik dan menyingkirkan bibit yang abnormal. Seleksi ini perlu dilakukan supaya memperoleh tanaman yang tumbuh dengan baik dan sehat. Darmosarkoro sendiri mengungkapkan seleksi bertujuan agar terhindar dari terbawanya bibit abnormal ke pembibitan selanjutnya. Seleksi ini harus dilakukan dengan teliti agar bibit sawit yang ditanam di lapangan merupakan bibit yang berkualitas. Satu hal yang pasti bahwa di setiap pembibitan pasti ada bibit abnormal.

Pemilahan dilakukan secara berapa tiap persilangan dengan menyikirkan bibit abnormal. Pada kelapa sawit tahapan dilakukan tiga kali, seleksi pertama saat pemindahan bibit ke pembibitan utama, lalu yang kedua setelah bibit berumur 4 bulan, lalu yang terakhir dilaksanakan sebelum bibit dipindahkan ke lapangan. Bibit bisa dipindahkan berkisar 12014 bulan. Kantong plastik dapat menjadi media pertumbuhan bibit sehingga seleksi bibit menjadi lebih gampang daripada yang dilakukan di tanah. Bila ada bibit yang abnormal bisa segera dibuang dengan mencabut langsung dari kantongnya. Bibit dengan mudah berpindah serta efisiensi dalam pemupukanakan lebih tinggi. Sebaiknya mengamati secara visual terhadap seluruh parameter pertumbungan bibit dengan melakukan perbandingan bibit satu dengan bibit yang berasal dari persilangan yang sama. Dari hasil pengamatan akan diketahui keadaan bibit yang baik dan normal serta bibit yang abnormal. Hal itu bisa dilihat dari penampilannya seperti tinggi, jumlah pelepah, besar bonggol, beda populasi, penyakit tajuk, pertumbuhan, daun membuka/tidak dan masih banyak lagi.

Setelah melakukan seleksi, bibit-bibit yang abnormal bisa diklasifikasikan jenisnya sekaligus diketahui presentasinya. Seleksi dilakukan setiap inspeksi pada setiap jangka pertumbuhan tanaman. Seleksi biasanya dibagi per kelompok dengan meletakkan bibit mati di bagian ujung kelompok berbatasan dengan kelompok lain di dalam satu bedengan. Hal ini bertujuan agar memudahkan pencatatan berita acara terhadap pemusnahan bibit karena bibit abnormal harus disingkirkan dan dimusnahkan. Soebagyo berpendapat supaya tidak terjadi terbuangnya tanaman yang baik sebaiknya dikerjakan oleh orang yang sudah menguasai pekerjaan ini dengan baik. Dengan begitu, maka dapat diperoleh hasil yang maksimal saat melakukan seleksi bibit.