Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Indonesia dihasilkan bibit kelapa sawit berkualitas, disebarkan ke berbagai daerah di nasantara untuk menghalikan tanaman bermutu. Menjadi andalan petani dan perusahaan perkebunan. Memperkuat posisi Indonesia sebagai penghasil CPO untuk memenuhi kebutuhan dunia.

PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) didirikan berdasarkan surat keputusan ketua DPH-AP 31 No. 084/Kpts/DPH/XII/1992. PPKS merupakan gabungan dari tiga lembaga penelitian, yaitu Puslitbun Marihat, Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbun) Medan, Sumatera Utara dan Puslitbun Bandar Kuala. Pada tahun 1993 sampai dengan 2009, institusi ini berada dalam koordinasi LRPI (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia), Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (APPI), anggotanya terdiri dari PTPN (PT. Perkebunan Nusantara) dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia dikenalan dengan RNI yang berkantor pusat di Jakarta.


Sejarah Kelapa Sawit Marihat

Sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor di Indonesia, kelapa sawit menjadi salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan. Selain melalui gapoktan atau Gabungan Kelompok Tani, budidaya kelapa sawit juga dijalankan oleh perusahaan dengan modal besar. Tak heran produksi minyak sawit dunia bahkan didominasi oleh Indonesia, dengan kapasitas produksi di 2016 ini kurang lebih sebesar 32 juta ton. Ini adalah langkah awal menuju kapasitas produksi CPO (Crude Palm Oil) hingga 40 juta ton pertahun yang dicanangkan pada kisaran 2020.

Kecenderungan permintaan dan konsumsi akan produk-produk olahan dari minyak kelapa sawit inilah yang menjadikan tanaman sawit jadi primadona di sektor perkebunan di Indonesia. Data menunjukan bahwa setidaknya dalam 15 tahun belakangan, belum ada industri yang mampu menyaingi pertumbuhan perkembangan industri sawit serta produk olahan berbasis minyak sawit, tentu mafhum adanya inilah mengapa luasan perkebunan kelapa sawit Indonesia yang 70 persen berada di Pulau Sumatra serta sisanya di Kalimantan, saat ini tumbuh pesat di Papua terus menunjukan pertumbuhan yang signifikan.

13 Juta hektar, demikian adalah satu target luasan perkebunan kelapa sawit yang diharapkan bisa dikembangkan pada kisaran tahun 2020. Bahkan angka itu telah jauh terlampau pada 2015, menurut beberapa institusi yang kompeten dan Ini adalah proyek prestisius dimana pada saat ini data dari kementrian pertanian RI menyatakan, telah ada sekitar 8 juta hektar lahan yang telah ditanami dengan kelapa sawit. Sebuah industri besar yang cukup menyerap banyak tenaga kerja.

Berangkat Dari Penelitian PPKS Marihat Siapkan Bibit Sawit Berkualitas Tinggi

Tingginya permintaan akan kelapa sawit, mulai dari hulu hingga hilir tentu jadi satu hal yang menjadi fokus perhatian siapapun yang hendak terjun ke dunia bisnis kelapa sawit. Mulai dari pemilihan bibit, hingga menuju ke pemasaran hasil kelapa sawit mentah musti dipikirkan matang, pendek kata, manajemen dan penangannya tak bisa dilakukan secara sembarangan. Kecermatan serta “kehandalan” bibit jadi kunci sukses berbisnis di bidang ini.

Dari banyak data, tingginya permintaan CPO jadi salah satu alasan bisnis kelapa sawit cukup ranum di mata investor. Jumlah pembukaan perkebunan baru, serta tingginya angka permintaan bibit sawit juga jadi dua hal dalam mata rantai bisnis tersebut. Tapi di balik daya tarik keuntungan yang ditawarkan, prosesi bisnis kelapa sawit di bagian hulu tetap jadi acuan utama. Prosesi apakah itu? Tentu saja pemahaman akan bibit yang terbaik, kuat dan cepat berproduksi pada usia tanam yang rendah.

Bibit sawit yang baik bisa menghasilkan CPO berlimpah, karena itu banyak pengusaha berusaha menemukan bibit terbaik. Salah satu bibit kelapa sawit terbaik di Indonesia adalah varietas kelapa sawit marihat. Bibit ini diproduksi oleh PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) Marihat yang ada di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatra Utara. Topografis perkebunan ini berada di ketinggian 369 meter DPL beriklim sejuk dengan tipe tanah podzolik yang sangat cocok untuk budidaya tanaman sawit.

Kebun kelapa sawit Marihat adalah sebuah sarana penelitian pemuliaan tanaman sawit yang berada dibawah nauangan PTPN IV yang khusus untuk menangani segala hal terkait seluk beluk tanaman sawit. Kebun ini berdiri bahkan jauh sejak era kemerdekaan, dikuasai oleh pihak pemerintahan kolonial dengan luas areal tanam mencakup hingga kurang lebih 1.681 Hektar. Tahun 1963, pemerintah mengambil alih pengelolaan kebun ini serta membaginya menjadi beberapa bentuk perusahaan perkebunan nusantara (PPN) dengan salah satu varietas unggulan dibawah tata kelolanya adalah kelapa sawit, karet dan coklat.

Seiring berjalannya waktu, PPKS Marihat telah berhasil membudidayakan tanaman sawit yang handal dan mampu memberikan hasil memuaskan, Marihat Klon (MK) salah satunya. Jenis ini mampu memproduksi 12 tandan per tahun, berat tandan 17 kg/pohon, dengan asumsi hasil CPO yang bisa didapatkan berkisar antara 6,7 ton setiap hektar dihitung pertahun. Dengan hasil yang demikian tentu bisa dikategorikan bahwa kelapa sawit Marihat adalah salah satu jenis kelapa sawit yang cukup handal sebagai komoditas usaha. Tak mengherankan bila banyak pengusaha sawit yang memilih bibit sawit PPKS Marihat untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas tanam di kebun kelapa sawit yang dikelola.