Proses Pembibitan Sawit

Usaha untuk terus mencari sumber daya energi terbarukan terus dilakukan oleh umat manusia. Pasalnya energi berbasis fosil yang selama ini dikenal didapatkan dari minyak bumi kian lama kian menipis. Hal ini pulalah yang tentu menjadikan semakin hari para ilmuwan terus bereksperimen dengan beragam bahan untuk menemukan penganti minyak bumi.

Salah satu yang mulai ditemukan adalah teknologi Biodiesel. Ini disebut-sebut sebagai salah satu energi terbarukan yang paling mirip dengan minyak bumi secara molekuler dan tentu, terbarukan. Bagaimana bisa demikian? Jawabannya adalah ada pada tanaman palem-paleman penghasil CPO yang disebut dengan kelapa sawit. Kelapa sawit adalah salah satu tanaman yang saat ini menjadi primadona bagi industri penghasil energi terbarukan, bio diesel misalnya.

Meski telah menjadi salah satu negara penghasil sawit terbesar di dunia. Indonesia juga masih memerlukan lebih banyak bibit sawit yang perlu ditanam di perkebunan sawit yang baru dibuka. Sawit berkualitas unggul tentu adalah yang paling dicari. Apa saja kategori dan jenis sawit unggul yang banyak ditanam, serta bagaimana proses pembibitannya? Artikel kali ini akan mengulas tentang informasinya.

Marihat Klon, Bibit Unggul Keluaran PPKS Marihat, Berikut Cara Pembibitannya


Banyak jenis sawit yang diburu oleh para pengusaha kelapa sawit untuk ditanam di perkebunan yang dikelolanya. Salah satu bibit sawit yang banyak diburu para petani dan pengusaha sawit adalah jenis sawit topaz, disamping sawit marihat tentunya. Akan tetapi, belakangan semakin banyak petani serta pengusaha sawit yang membidik Marihat Klon (MK) bibit sawit unggulan produksi PPKS Marihat, Sumatera Utara.

Pembibitan sawit, dari jenis apapun sebenarnya hampir sama dengan pembibitan tanaman lainnya. Secara garis besar bisa dibagi menjadi dua model, yaitu; Double stage dimana penanaman kecambah sawit dilakukan dalam dua tahap, pertama di polybag kecil (pre nursery) baru kemudian dipindahkan ke polybag besar (main nursery). Sedangkan model kedua adalah Single Stage dimana penanaman kecambah sawit lansung dijalankan di tempat pembibitan utama.

Dari segi keefektifan, kedua model tanam diatas sebenarnya bisa jadi memberikan bibit sawit siap tanam di kebun yang sama. Hanya saja metode double stage lebih disarankan karena terkait dengan beberapa keungulan diantaranya; kualitas bibit lebih terjamin karena terdapat proses seleksi pada saat pemindahan dari pre nursery menuju main nursery, dan tersedianya waktu untuk menyiapkan pembibitan utama sehingga lebih maksimal pada saat perawatan di kemudian hari. Secara garis besar tahapan yang harus dilakukan mulai dari pembibitan hingga sawit siap tanam di perkebunan pada usia 12 bulan adalah sebagai berikut:

1. Pre Nursery

Kecambah yang sudah disiapkan dan disortir ditanam dalam polybag berukuran 10 x 15 centimeter (cm). Pastikan terdapat lubang perforasi serta penempatan yang membuat bibit mendapat sinar matahari cukup. Saat bibit telah menunjukan tanda-tanda seperti munculnya satu daun tunggal yang sehat. Ini menandakan bibit siap untuk stage 2.

2. Main Nursery

Bibit yang sudah berdaun satu dipindahkan ke dalam polybag yang lebih besar dengan ukuran 42,5 cm x 50 cm. Lubang drainase sebagai sarana keluar masuknya aliran air saat dilakukan penyiraman perlu untuk dipastikan ukurannya. Sebab tanaman sawit adalah bangsa palem-paleman, jika jumlah air terlalu melimpah maka pertumbuhannya akan kurang baik. Saat bibit sawit berusia 3 bulan perlu dilakukan penjarangan posisi polybag. Jarak yang ideal berkisar antara 90 x 90 cm. Ini dilakukan agar perkembangan tanaman sawit tidak terlalu dekat dan bisa mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Pemupukan bibit sawit sebaiknya baru dilakukan pada saat usia bibit mencapai 4 bulan. Sangat tidak dianjurkan untuk memberikan pupuk jika usia tanamnya masih dibawah itu. Pupuk yang diberikan dari jenis NPK. Marihat Klon (MK) sebagai salah satu bibit sawit berkualitas keluaran PPKS Marihat Sumatra Utara bisa ditanam pada usia 12 bulan atau satu tahun. Ini berbeda dengan sawit topaz yang memang memiliki usia tanam lebih muda yaitu berkisar antara delapan bulanan. Sebab pada saat usia 8 bulan ketinggian sawit topaz sudah mencapai 1,5-1,8 meter. Tetapi yang membedakan adalah harga bibitnya, setiap batang sawit topaz seharga kurang lebih 50 ribu rupiah, sedangkan sawit Marihat ada pada kisaran 16 ribu rupiah untuk usia tanam 12 bulan. Untuk kisaran CPO yang dihasilkan sawit marihat bisa menghasilkan 6,7 ton/ ha pertahunnya.